Pengendalian Nafsu Dalam Rangka Mencapai Takwa

Puasa di bulan Ramadhan sejatinya adalah WORKSHOP dengan tema :

“ PENGENDALIAN NAFSU DALAM RANGKA MENCAPAI TAQWA”.

small_84uswatun Subhanallaah, sang Pencipta tidak mungkin menyiksa makhlukNya dengan berlapar-lapar kecuali untuk mendidik agar sang makhluk yang dikasihiNya bahagia sejahtera lahir bathin. Pertanyaan menggelitik….kenapa ya…nafsu mesti dikendalikan bukankah dengan nafsu kita bisa merasakan nikmanya hidup?. Allah yang  Maha Pengasih Penyayang  rupanya tidak ingin makhlukNya terjebak, tergelincir, terperosok dalam kenikmatan nafsu… Mari kita renungkan,… kenikmatan yang manakah yang didorong/dipicu oleh nafsu…tak lain adalah nafsu makan, birahi, kekuasaan dan lain-lain kebutuhan duniawi. Kita simak dua terdahulu saja yaitu makan dan birahi yang merupakan kebutuhan utama ‘keberlanjutan ‘ kehidupan manusia didunia. Nafsu sejatinya hanyalah ‘pemantik’ bagi kebutuhan mendasar ‘keberlanjutan’ kehidupan duniawi. Nafsu ibarat ‘energi aktivasi’ yang hanya diperlukan di awal dalam reaksi kimia. Sang Pencipta yang Kasih SayangNya tanpa batas pada makhlukNya, ternyata membatasi ‘kebutuhan’hidup yang dipicu oleh nafsu ini yaitu dalam hal jumlah dan waktu alias SEDIKIT dan SINGKAT. Disinilah IMAN dibutuhkan dalam rangka memahami kehendak sang Pencipta dalam membahagiakan dan mensejahterakan makhlukNya. Subhanallah, Dia Yang Maha Pengasih Penyayang melatih dan mendidik kita melalui puasa selama sebulan di bulan Ramadhan ini. Apa-apa yang dilarang selama puasa sejatinya adalah mewakili hal-hal yang harus dikendalikan dalam hidup ini.

Pelatihan selama sebulan ini tentu harus memancar dalam kehidupan setelah Ramadhan yaitu terbangunnya akhlak yang mulia, terkendali segala keinginan yang tidak perlu atau berprilaku barbasis kebutuhan, sebagai perwujudan dari TAQWA. Jadi taqwa adalah kata kerja atau proses yang mengantarkan pada kehidupan yang bahagia sejahtera yang hakiki lahir, bathin , dunia dan akhirat. Efektifitas pelatihan selama sebulan ini tentu tercermin dari akhlak yang terbentuk setelah Ramadhan. Karenanya kita diingatkan, agar tidak termasuk golongan orang yang hanya merasakan haus dan lapar karena tidak mampu menangkap dan mewujudkan hikmah puasa dalam keharian kita.

Marilah kita saling mengingatkan dalam keseharian kita, karena syetan yang selalu bertengger merapat pada nafsu selalu menggoda kita setiap saat, dari kanan, kiri, atas dan bawah. Kita perkuat iman kita sehingga mampu mengikat kaki dan tangan syetan setiap saat. Seringkali diri ini tak berdaya oleh iming-iming yang nampak menyenangkan namun sejatinya menjerumuskan. Sekali lagi dari hati yang tulus marilah kita bekerjasama, merapatkan barisan untuk bersama-sama berperang melawan syetan yang bertengger di nafsu kita. Semoga Allah SWT memberi Rahmat kepada kita semua, Amiin yaa Rabbal ‘Alamiin.

oleh : Uswatun Hasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published.