Dosen Universitas Brawijaya Teliti Solusi Penyimpanan Hidrogen Memanfaatkan Es Batu

Berita ini disadur dari: http://suryamalang.tribunnews.com/2017/09/11/dosen-universitas-brawijaya-teliti-solusi-penyimpanan-hidrogen-memanfaatkan-es-batu

Lukman Hakim

 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU – Hidrogen merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sedang banyak diteliti. Pasalnya hasil pembakaran hidrogen hanya berupa uap air, sehingga hidrogen akan menjadi bahan bakar paling bersih. Sayangnya, energi yang dihasilkan hidrogen lebih besar dari bahan bakar lain sehingga mudah meledak.

Para peneliti pun sedang giat mencari solusi untuk penyimpanan bahan bakar alternatif masa depan itu. Di antaranya adalah dosen jurusan Kimia Universitas Brawijaya (UB), Dr Sc Lukman Hakim SSi MSc. Dia mengembangkan penelitian sebagai solusi penyimpanan hidrogen dengan memanfaatkan es batu bertekanan.

“Solusi ini sudah diketahui para peneliti sekitar satu dekade terakhir. Idenya dari penemuan bahan metan (bahan LPG) yang terkompresi secara alami bersama air di bawah laut di negara dengan musim dingin. Jika metan bisa tersimpan di dalam air yang membeku, hidrogen pun seharusnya bisa,” terang Lukman kepada SURYAMALANG.COM, Senin (11/9/2017). Selama ini penyimpanan hidrogen secara konvensional hanya menggunakan tabung biasa. Penyimpanan gas dalam tabung biasanya dalam bentuk cair, seperti LPG.

Namun, hidrogen tidak bisa dicairkan. Akibatnya tabung yang berat itu hanya terisi sedikit gas hidrogen. “Biaya yang dihabiskan lebih banyak, namun yang tersimpan hanya sedikit. Dalam tabung 1 kg, hanya bisa menyimpan 15 gram gas hidrogen,” jelas lulusan Okayama University, Jepang itu. Pembuatan penyimpanan hidrogen dengan es batu dilakukan dengan mengompresi air dan hidrigen secara bersamaan menggunakan sel amfil berlian bertekanan 1.000-10.000 bar.

“Molekul hidrogen akan menempati rongga di dalam es batu bertekanan. Es batu kemudian diperiksa menggunakan spektrometer untuk memastikan hidrogen tersimpan di dalamnya,” kata pria asal Pontianak itu. Hasilnya, dalam 1 kg es batu, hidrogen yang tersimpan bisa mencapai 110 gram. “Jelas lebih baik dibandingkan menggunakan tabung yang hanya bisa menyimpan 15 gram gas,” ucapnya. Ketika akan digunakan, hidrogen yang tersimpan di dalam es batu itu dilelehkan dengan dekompresi dan pembakaran.

“Saat ini memang masih skala laboratorium, namun nantinya tentu bisa dikembangkan lebih jauh,” tutur pria kelahiran 12 April 1982 itu. Metode penyimpanan gas hidrogen memang menjadi salah satu permasalahan pemanfaatan hidrogen sebagai alternatif bahan bakar. “Untuk produksi dan konsumsinya tidak ada masalah. Namun karena dia mudah meledak, peneliti kesulitan mencari cara penyimpanannya,” ungkap dosen Kimia Fisik Komputasi itu.